fbpx

Quiet Quitting di Kantor? Ini Tanda, Penyebab, dan Cara HR Menanganinya

Quiet quitting adalah istilah yang menggambarkan kondisi di mana seorang karyawan tetap menjalankan tugas sesuai jobdesc-nya, tapi tanpa keterlibatan emosional atau usaha ekstra. Mereka tidak benar-benar “resign”, tapi juga tidak sepenuhnya hadir secara mental.

Fenomena ini mulai ramai diperbincangkan karena banyak terjadi di lingkungan kerja modern. Karyawan terlihat aktif, hadir, bahkan menyelesaikan tugas, tapi kalau diperhatikan lebih dalam, mereka sudah berhenti untuk berkontribusi lebih. Tidak lagi tertarik memberi ide, tidak inisiatif, dan cenderung pasif dalam kolaborasi.

Bagi HR, quiet quitting bukan hal sepele. Ini bisa menjadi pertanda awal dari menurunnya keterlibatan (employee engagement) yang berisiko memengaruhi kinerja tim secara keseluruhan.

| Baca juga: UMKM Sukses Dimulai dari Kebahagiaan Karyawan 

 

Penyebab Quiet Quitting Adalah Kombinasi Internal dan Lingkungan Kerja

Quiet quitting biasanya bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal. Beberapa hal yang sering memicu kondisi ini di antaranya:

  • Karyawan merasa usahanya tidak dihargai.

  • Beban kerja tidak sebanding dengan kompensasi.

  • Tidak ada kejelasan arah atau tujuan.

  • Kurangnya ruang berkembang.

Semua faktor di atas membuat karyawan hadir secara fisik, tapi tidak secara emosional. Dan yang paling sulit, HR sering kali baru menyadarinya saat dampaknya sudah muncul di tim.

quiet quitting

Dampak Quiet Quitting Adalah Penurunan Kinerja Tim Secara Perlahan

Quiet quitting tidak langsung terlihat seperti masalah besar. Tapi jika dibiarkan, bisa menyebabkan:

  • Proyek berjalan tanpa inisiatif baru

  • Inovasi stagnan

  • Beban kerja jadi timpang

  • Kolaborasi melemah

Satu hal yang sering terlewat: data kehadiran harian bisa jadi indikator awal yang perlu diamati. Saat karyawan mulai sering datang mepet, pulang pas jamnya, atau mendadak sering izin, itu bisa jadi sinyal disengagement. Di sinilah pentingnya punya sistem presensi yang bukan hanya merekam jam masuk dan keluar, tapi juga bisa memberikan insight.

 

Cara Mengatasi Quiet Quitting Adalah Dengan Pendekatan yang Lebih Manusiawi

Menghadapi quiet quitting tidak bisa dengan tekanan atau kontrol berlebihan. Pendekatannya justru harus lebih empatik. Beberapa langkah yang bisa dilakukan HR:

  1. Buka ruang komunikasi dua arah.

  2. Lakukan survey engagement secara berkala.

  3. Tawarkan jalur pengembangan yang jelas.

  4. Tumbuhkan budaya apresiasi.

  5. Pantau tren kehadiran sebagai sinyal awal.

Di sinilah peran teknologi bisa sangat membantu. Platform seperti ngabsen.id bukan hanya mencatat presensi, tapi juga memberi insight soal perilaku kehadiran tim—mulai dari keterlambatan, tren absensi mendadak, sampai rekap kerja lembur yang bisa mencerminkan beban kerja berlebih. Dari sini, HR bisa mengambil langkah lebih cepat dan terarah sebelum semangat kerja benar-benar padam.

Selain itu, penting juga untuk mengedukasi manajer lini agar lebih peka terhadap perubahan perilaku tim. Jangan biarkan segala beban hanya berhenti di HR, karena keterlibatan karyawan adalah tanggung jawab bersama.

| Baca juga: 7 Prinsip Komunikasi Efektif untuk UMKM Modern 

apliaksi Gerbang by ngabsen.id

Kesimpulan: Quiet Quitting Adalah Alarm Sunyi yang Harus Didengar

Quiet quitting bukan tentang karyawan yang malas. Sering kali mereka adalah orang-orang yang dulu sangat terlibat, tapi perlahan merasa lelah, tidak berkembang, atau tidak dilibatkan. Semakin cepat HR menyadari sinyal ini, semakin besar peluang untuk mencegah efek domino yang lebih luas, mulai dari turunnya produktivitas tim, hingga meningkatnya angka turnover.

Sebagai HR, memahami tanda-tanda ini adalah langkah awal untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, terbuka, dan suportif. Di sinilah peran data juga menjadi penting. Dengan bantuan sistem seperti ngabsen.id, HR bisa mendapatkan insight yang lebih dalam, bukan hanya soal kehadiran, tapi juga membaca pola keterlibatan yang mungkin tidak terlihat secara kasat mata.

Karena pada akhirnya, HR bukan hanya mengelola orang. HR menjaga ritme kerja tim, mendengarkan hal-hal yang tak diucapkan, dan menjaga agar semangat kerja tidak padam di tengah tekanan.

| Baca juga: Teknologi HR di 2025 yang Wajib Diadaptasi Bisnis 

Aplikasi Ngabsen.id

Pakai Aplikasi Ngabsen.id

Kelola karyawan lebih mudah dan efisien bersama Ngabsen.id 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Terdaftar Di

Norton Check

© Copyright 2025 PT Xeno Persada Teknologi